KATA PENGANTAR
Alhamdulilah puji syukur kita
panjatkan kepda ALLAH SWT yang masih
memberikan nafas kehidupan, sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada
waktunya dengan judul”Ragam Adat Dan Budaya Aceh”. Penulis juga mengucapkan terimakasih
kepada bapak Muhammad Yunus Ahmad,S.Hum,M.Us sebagai dosen pengasuh mata kuliah Sejarah Adat Dan Budaya Aceh.
Penulis
berharap semoga makalah ini bermanfaat dan khususnya bagi pembaca pada umumnya.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis
berharap bagi pembaca dapat memberi kritik atau saran yang membagun untuk
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
Kata pengantar....................................................................................................... i
Daftar isi............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................ 1
A.
Latar belakang........................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah..................................................................................... 2
C.
Tujuan....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................. 3
A.
Aceh ........................................................................................................ 3
B.
Ragam adat di
aceh................................................................................. 4
a. Adat tullah.......................................................................................... 4
b. Adat mahkamah.................................................................................. 5
c. Adat tunah.......................................................................................... 5
C.
Budaya di aceh........................................................................................ 5
D.
Seni dalam
budaya aceh.......................................................................... 6
a. Seudati................................................................................................ 6
b. Laweut................................................................................................ 6
c. Seni rupa dalam budaya aceh.............................................................. 7
d. Seni arsitektur dalam budaya aceh...................................................... 7
E.
Upacara
perkawinan adat aceh................................................................ 7
BAB III PENUTUP........................................................................................ 10
A. Kesimpulan............................................................................................ 10
B. Saran...................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia adalah
salah satu negara yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam.
Masing-masing budaya daerah saling memperngaruhi dan dipengaruhi oleh
kebudayaan daerah lain maupun kebudayaan yang berasal dari luar Indonesia.
Salah satu kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Aceh. Dilihat dari
kebudayaannya, Aceh memiliki budaya yang unik dan beraneka ragam. Karena
letaknya yang strategis dan juga Aceh merupakan jalur perdagangan, maka
kebudayaan Aceh ini banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya melayu, dan Timur
Tengah. Beberapa budaya yang ada sekarang adalah hasil dari akulturasi antara
budayamelayu, Timur Tengah dan Aceh sendiri.
Suku bangsa yang mendiami
Aceh merupakan keturunan orang-orang melayu dan Timur Tengah, hal ini
menyebabkan wajah-wajah orang Aceh berbeda dengan orang Indonesia yang berada
di wilayah lain. Sistem kemasyarakatan suku bangsa Aceh, mata pencaharian
sebagian besar masyarakat Aceh adalah bertani, tetapi tidak sedikit juga yang
berdagang. sistem kekerabatan masyarakat Aceh mengenal Wali, Karong dan Kaom. Agama Islam adalah agama yang paling mendominasi di Aceh oleh karena itu
Aceh mendapat julukan Serambi Mekah. Dari struktur masyarakat Aceh dikenal
gampong, mukim, nanggroe dsb.
A. Rumusan masalah
1.
Mengetahui suku-suku di aceh?
2.
Apa saja ragam adat di aceh?
3.
Apa saja ragam budaya di aceh?
4.
Apa saja seni dalam budaya aceh?
B. Tujuan
1.
Untuk mengetahui suku suku di aceh
2.
Untuk mengetahui ragam adat di aceh
3.
Untuk mengetahui ragam budaya di aceh
4.
Untuk mengetahui
seni dalam budaya aceh
BAB II
PEMBAHASAN
A. ACEH
Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki
aneka ragam budaya yang menarik khususnya dalam bentuk tarian, kerajinan dan
perayaan. Di Provinsi Aceh terdapat delapan suku yaitu:
Suku Aceh merupakan kelompok mayoritas yang mendiami kawasan
pesisir Aceh. Orang Aceh yang mendiami kawasan Aceh Barat dan Aceh Selatan terdapat sedikit perbedaan kultural
yang nampak nya banyak dipengaruhi oleh gaya kebudayaan Minangkabau. Hal ini
mungkin karena nenek moyang mereka yang pernah bertugas diwilayah itu ketika
berada di bawah protektorat kerajaan Aceh tempo dulu dan mereka berasimilasi
dengan penduduk disana.
Suku Gayo dan Alas merupakan suku minoritas yang mendiami
dataran tinggi di kawasan Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. Kedua suku ini juga bersifat
patriakhat dan pemeluk agama Islam yang kuat.
Suku tamiang mendiami enam kecamatan di kabupaten aceh
timur, yaitu kecamatan karang baru, kecamatan kejuruan muda, kota kuala
simpang, kecamatan seruay, tamiang hulu dan kecamatan bendahara.
Suku kluet mendiami dua kecamatan di kabupaten aceh selatan
yaitu kecamatan kluet utara dan kluet selatan. Bahasa sehari hari yang di
gunakan adalah bahasa kluet, dan mata pencaharian orang kluet adalah pada
umumnya adalah sebagai petani, berkebun dan berladang.
Suku singkil adalah salah satu suku asal yang terdapat di
NAD. Orang singkil mendiami 4 kecamatn, yaitu kecamatan singkil, simpang kanan,
simpan kiri dan kecamatan pulau banyak. Adat istiadat berkembang dari hasil
asimilasi kalangan orang singkil dengan adat aceh, minangkabau, mandailing, dan
nias.
Suku aneuk jamee menurut beberapa sumber berasal dari
minangkabau, diantaranya daerah riau, pariaman, lubuk sikaping, dan pasaman.
Suku minangkabau ini bermigrasi ke pantai barat aceh di mulai sejak abad ke 17.
Orang orang minangkabau yang datang berdomisili di pesisir barat aceh di anggap
sebagai tamu yang berasimilasi dengan penduduk ssetempat (tamu daam bahasa aceh
di sebut jamee).
Suku simeulue pada
umumnya mendiami pulau simeulue dan pulau simeulue dan pulau pulau kecil di
sekitarnya. Pulau simeulue terletak di lepas pantai barat NAD di sumatra
indonesia. Pulau simeulue terkenal dengan penghasilan cengkeh, kelapa, kerbau,
kayu, sagu dan lain lain. Bahasa simulue terdiri atas dua bahasa daerah yaitu
di sebut bahasa pulau (Ulau).[1]
B.
RAGAM
ADAT DI ACEH
Adat aceh
sebenarnya sangat tinggi nilainya, karena adat tersebut di masa
pemerintahan kerajaan Aceh Darussalam sebagi dasar atau pedoman bagi
pemeritahan untuk di jadikan landasan tegakny pemerintahan serta pelaksananya,
karena daat di buat untuk untuk di laksanakan dan menjadi benteng agama yaitu
Agama Islam. Adat aceh lebih dekat dengan unsur syari’at islam maka adat
tersebut lebih bernuansa islami. Adat di Aceh di bagi atas bebrapa bagian
(kelompok) yaitu:
·
ADAT TULLAH
·
ADAT MAHKAMAH
·
ADAT TUNAH
a)
Adat
Tullah
Adat Tullah
adalah suatu ketentuan atau suatu persyaratan\ aturan yang
berdasarkan\bersumber dari kitabullah(Al-Quran) dan hadis. Aturan tersebut
tidak boleh di rubah-rubah, haus di sosialisasikan |disyiarkan dalam
masyarakat, pada hakikatnya adat tulah ini merupakan unsur dari syariat islam.
b)
Adat
Mahkamah
Yang termasuk dalam adat mahkamah( adat meukuta
alam) anatra lain:
1.
Adat/ struktur pemerintahan
2.
Adat pemberian gelar
3.
Adat berpakaian
4.
Adat di bidaang etika/tata krama bermasyarakat.
5.
Adat hareukat/penghasilan seperti sungai, hutan,
bercocok tanam, besawah dan lain-lainya.
c) Adat tunah
Adat Tunah
asal katanya “Tunas” dalam bahasa Indonesia, sedangkan dalam bahasa Aceh tunah yang dimaksud dalam ungkapan
ini adalah kiasan suatu yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, umpamanya
tunas kayu pada pohon yang akan tumbuh cabang dan pada cabang tumbuh ranting,
begitu juga pada rumpun bambu dan rumpun pisang bahwa pada pangkal pohonnya
dalam rumpun tersebut tumbuh tunas anak bambu atau tunas anak pisang dan
berkembang menjadi besar.
Tunas itu berarti suatu adat yang mengalami perubahan atau mengalami
pertumbuhan dengan munculnya adat-adat atau diadakan oleh seseorang secara
pribadi untuk menggembirakan kelompok keluarga kemudian diikuti oleh keluarga
lain, yang mengalami kemajuan pesat, acara tersebut menjadi keharusan/kebiasaan
bagi masyarakat setempat. Oleh karena pertumbuhannya itu maka sudah muncul adat
(kebiasaan) baru, kebiasaan baru itulah yang dinamakan Adat Tunah.[2]
C.
BUDAYA
DI ACEH
Di daerah Aceh terdapat beberapa kebudayaan daerah yang
menjadi ciri khas dari daerah Aceh. Salah satu dari budaya Aceh adalah seni
tarian saman dan rapai geleng. tarian saman dan rapai geleng sangat terkenal di
berbagai daerah di Indonesia. Hal itu karenakan ada gerakan yang unik dan khas
dari tarian itu sendiri. Sehingga jikalau ada yang menyaksikan tarian saman
atau rapai geleng, pasti orang tersebut akan langsung teringat kepada daerah
asal tarian itu berkembang yaitu daerah Aceh. [3]
D.
SENI DALAM
BUDAYA ACEH
Kesenian Aceh pada dasarnya mempunyai ciri yang amat nyata,
yaitu Islam didalamnya. Hal ini disebabkan karena pengaruh Islam yang sangat
besar dalam kehidupan masyarakat Aceh, terutama dalam kehidupan masyarakat Aceh
masa lampau. Dalam masyarakat Aceh masa kini ajaran Islam itu tetap dipandang
sebagai nilai yang esensial dan masih sangat besar pengaruhnya sekalipun
disamping itu pengaruh dari budaya modern mulai besar pula. Dengan kata lain
telah terjadi pergeseran. Malah dalam beberapa nilai konflik nilai-nilai dalam
masyarakat Aceh sekalipun nilai-nilai Islam masih tetap dominan.[4]
beberapa budaya dan seni Aceh diantara sekian banyak budaya
dan seni kebanggaan masyarakat Aceh.
1.
Seudati
Seudati merupakan perpaduan antara seni tari, seni suara, seni
sastra, karena selain dari menari, para pelaku juga sekaligus meyakinkan
kisah-kisah yang tersusun secara bersajak dan dilagukan dengan berbagai lagu,
pada permulaan sejarahnya, seudati itu berfungsi sebagai tari pahlawan yang
dilaksanakan untuk melepaskan pasukan tentara yang akan berangkat ke medan
juang dalam peperangan melawan musuh,- menyambut pasukan tentara yang pulang
dari medan perang, lebih kalau pasukan itu pulang dengan membawa kemenangan,
media dakwah, karena dalam kisah yang diucapkan bersajak itu, dapat diselipkan
berbagai ajaran yang perlu didakwahkan.
Akan tetapi kemudian oleh karena kesenian tersebut sangat
digemari oleh rakyat, maka diadakan juga pada waktu-waktu yang lain, bahkan
dikampung-kampung. Akhirnya fungsi berubah menjadi hiburan rakyat dan
dipertandingkan dengan pemungutan bayaran.
Para pelaku seudati terdiri dari delapan orang penari
ditambah satu atau anak seudati yang bagus suaranya, oleh karena para seudati
terdiri dari delapan orang maka dinamakan saman berasal dari bahasa Arab yang
berarti delapan, dan oleh karena dalam permainan itu diceritakan bermacam-macam
terutama sewaktu pertandingan, maka dinamakan ratooh.
2.
Laweut
Perkataan laweut berasal dari perkataan “seulaweut”
(seulaweut dalam bahasa Indonesia) ini juga merupakan antara seni tari, seni
suara dan seni sastra. Tari ini lebih mirip dengan tari seudati, hanya
pelakunya terdiri dari gadis-gadis, oleh karena itu juga dinamakan dengan nama
“seudati inong” (Seudati Perempuan) tarin seudati ini berasal dari Aceh Pidie.
3.
Seni Rupa Dalam Budaya Aceh
Seni rupa juga berkembang di Aceh, akan tetapi
perkembangannya sekarang tidak menonjol sebagaimana keadaan pada masa lampau,
seni rupa yang berkembang di Aceh adalah seni arsitektur, seni ukir, dan seni
dalam membuat sulaman, anyaman, keramik, kopiah meukutop dan rencong, seni
pahat dan seni lukis tidak berkembang pada masa lampau, dari keduanya hanya
seni lukis yang mulai berkembang sekarang, sebab tidak berkembangnya seni pahat
dan seni lukis pada masa lampau di Aceh juga karena ajaran Islam.
4.
Seni Arsitektur Dalam Budaya Aceh
Seni Arsitektur Tercermin dari rumoh Aceh yang
sekarang masih ada sisa-sisanya, bentuk dari rumah tradisional Aceh ini
memanjang dari arah timur ke barat yang maksudnya dibuat demikian adalah untuk
memudahkan menentukan arah kiblat. Dibagian sebelah barat maupun sebelah timur
sejajar dengan kuda-kuda dan letaknya agak keluar, terdapat tolak angin (tulak
angen) yang sepenuhnya berisi ukiran-ukiran yang merupakan kaligrafi yang
berasal dari ayat-ayat al-Quran.
Demikian pula pada pintu rumah yang disebut juga Pinto
Aceh serta pada kisi-kisi dan bingkai jendela terdapat juga ukiran-ukiran
yang bermotif alam (misalnya bunga) dan kaligrafi huruf Arab.
1.
Tahapan Melamar (Ba Ranub)
Pada hari yang telah di sepakati datanglah rombongan orang2
yang dituakan dari pihak pria ke rumah orang tua gadis dengan membawa sirih
sebagai penguat ikatan berikut isinya seperti gambe, pineung reuk, gapu,
cengkih, pisang raja, kain atau baju serta penganan khas Aceh. Setelah acara
lamaran iini selesai, pihak pria akan mohon pamit untuk pulang dan keluarga
pihak wanita meminta waktu untuk bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai
diterima-tidaknya lamaran tersebut.
2.
Tahapan Pertunangan (Jakba Tanda)
Bila lamaran diterima, keluarga pihak pria akan datang
kembali untuk melakukan peukeong haba yaitu membicarakan kapan hari perkawinan
akan dilangsungkan, termasuk menetapkan berapa besar uang mahar (disebut
jeunamee) yang diminta dan beberapa banyak tamu yang akan diundang. Biasanya
pada acara ini sekaligus diadakan upacara pertunangan (disebut jakba tanda).
3.
Persiapan Menjelang Perkawinan
Seminggu menjelang akad nikah, masyarakat aceh secara
bergotong royong akan mempersiapkan acara pesta perkawinan. Mereka memulainya
dengan membuat tenda serta membawa berbagai perlengkapan atau peralatan yang
nantinya dipakai pada saat upacara perkawinan. Adapun calon pengantin wanita
sebelumnya akan menjalani ritual perawatan tubuh dan wajah serta melakukan
tradisi pingitan. Selam masa persiapan ini pula, sang gadis akan dibimbing
mengenai cara hidup berumah tangga serta diingatkan agar tekun mengaji.
Selain itu akan dialksanakan tradisi potong gigi (disebut
gohgigu) yang bertujuan untuk meratakan gigi dengan cara dikikir Agar gigi sang
calon pengantin terlihat kuat, Setelah itu calon pengantin melanjutkan dengan
perawatan luluran dan mandi uap
Selain tradisi merawat tubuh, calon pengantin wanita akan
melakukan upacara kruet andam yaitu mengerit anak rambut atau bulu-bulu halus
yang tumbuh agar tampak lebih bersih lalu dilanjutkan dengan pemakaian daun
pacar (disebut bohgaca) yang akan menghiasi kedua tangan calon pengantin. Daun
pacar ini akan dipakaikan beberapa kali sampai menghasilkan warna merah yang
terlihat alami.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan mengadakan pengajian
dan khataman AlQuran oleh calon pengantin wanita yang selanjutnya disebut calon
dara baro.Sesudahnya, dengan pakaian khusus, calon dara baro mempersiapkan
dirinya untuk melakukan acara siraman (disebut seumano pucok) dan didudukan pada
sebuah tikaduk meukasap.
4.
Upacara Akad Nikah Dan Antar
Linto/Antar Dara Baroe
Pada hari H yang telah ditentukan, akan dilakukan secara
antar linto (mengantar pengantin pria). Saat akad nikah berlangsung, ibu dari
pengantin pria tidak diperkenankan hadir tetapi dengan berubahnya waktu
kebiasaan ini dihilangkan sehingga ibu pengantin pria bisa hadir saat ijab
kabul. Keberadaan sang ibu juga diharapkan saat menghadiri acara jamuan besan
yang akan diadakan oleh pihak keluarga wanita.
Setelah ijab kabul selesai dilaksanakan, keluarga Calon Linto
Baroe akan menyerahkan jeunamee yaitu mas kawin berupa sekapur sirih,
seperangkat kain adat dan paun yakni uang emas kuno seberat 100 gram. Setelah
itu dilakukan acara menjamu besan dan seleunbu linto/dara baro yakin acara
suap-suapan di antara kedua pengantin. Makna dari acara ini adalah agar keduanya
dapat seiring sejalan ketika menjalani biduk rumah tangga.[5]
5.
Upacara Peusijeuk
Yaitu dengan melakukan upacara tepung tawar, memberi dan
menerima restu dengan cara memerciki pengantin dengan air yang keluar dari daun
seunikeuk, akar naleung sambo, maneekmano, onseukee pulut, ongaca dan lain
sebagainya minimal harus ada tiga yang pakai. Acara ini dilakukan oleh beberapa
orang yang dituakan(sesepuh) sekurangnya lima orang.[6]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
selama ini banyak daripada generasi Aceh yang tidak mengenal
akan budaya nenek moyang mereka, mereka lebih mengenal akan budaya-budaya asing
(budaya barat) yang sama sekali tidak cocok dengan kultur kita masyarakat
Aceh ini merupaka sebuah dilema bagi kelestarian budaya yang sangat kita
cintai ini, padahal seharusnya kita harus bangga dengan budaya kita itu yang
berbeda dengan budaya-budaya lain yang ada di dunia ini.
Semua pihak harus bangkit dan bersatu menyelamatkan budaya
kita, semua kita harus mempunyai rasa memiliki dan rasa mencintai terhadapa
budaya yang kita miliki, setiap bangsa yang lupa akan budayanya maka bangsa
tersebut akan kehilangan jati diri. Mari kita bangkitkan kembali rasa cinta
terhadap budaya kita kepada segenap generasi kita sejak dini sebelum semuanya
terlambat.
B.
Saran
Dengan
ditulisnya makalah yang menjelaskan tentang
“Ragam
Adat Dan Budaya Aceh” kami berharap
makalah dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca.
[1]
Muhammad Umar,Peradaban Aceh,CV.
Boebon Jaya, Banda Aceh,2008,ha l69-75
[2]
Ibid, hal 78
[3]
Saifudin,Bunga Rampai Temu Budaya
Nusantara, Syiah Kuala University Press, Banda Aceh,1998,hal 163
[4]
Anton widyanto, menyorot nanggroe,
pena, banda aceh, 2007, hal 271
[5]
Saifudin,Bunga Rampai Temu Budaya
Nusantara, Syiah Kuala University Press, Banda Aceh,1998,hal 437
[6]
Muhammad Umar,Peradaban Aceh,CV.
Boebon Jaya, Banda Aceh,2008,hal 190
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Umar,Peradaban Aceh,CV. Boebon
Jaya, Banda Aceh,2008
Saifudin,Bunga
Rampai Temu Budaya Nusantara, Syiah Kuala University Press, Banda Aceh,1998
Anton
widyanto, menyorot nanggroe, pena, banda aceh, 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar